Youth Mission Conference Dorong Generasi Muda GMMI Menjadi Misionaris bagi Bangsa-Bangsa
Kupang – Sekitar 300 pemuda dari berbagai jemaat Gereja Masehi Musafir Indonesia (GMMI) di Kota Kupang dan sekitarnya mengikuti Youth Mission Conference bertema Called by the Gospel, Sent to the World (Dipanggil dan Diutus untuk Memberitakan Injil Kristus) yang berlangsung di GMMI Jemaat Persaudaraan Nunbaun Sabu, 27–28 Juli 2026. Konferensi yang digelar melalui kolaborasi Tim IMTC (International Missionary Training Centre) dari Korea Selatan, GMMI Brotherhood Malang, dan Angkatan Muda Musafir Indonesia (AMMI) ini bertujuan membangkitkan kesadaran generasi muda akan panggilan misi sebagai bagian dari Amanat Agung Yesus Kristus.

Ketua Sinode GMMI, Pdt. Gatsper Anderius Hawu Lado, M.Th., mengatakan pelayanan misi merupakan identitas gereja yang harus terus diwariskan kepada generasi muda. Menurutnya, regenerasi misionaris menjadi kebutuhan mendesak agar pelayanan pemberitaan Injil terus berlanjut di tengah perubahan zaman.
“Ini merupakan kegiatan yang sangat berharga. Roh Tuhan akan bekerja di tempat ini. Ketika kita mengerjakan pelayanan misi, tentu ada tantangan, tetapi kita harus tetap sehati dan satu roh. Regenerasi pelayanan misi harus terus dilakukan agar lahir orang-orang muda yang mengasihi Tuhan dan siap melanjutkan tongkat estafet pelayanan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa misi bukan hanya berbicara tentang pemberitaan Injil melalui perkataan, tetapi juga menghadirkan kasih Kristus melalui pelayanan yang menjawab kebutuhan rohani, sosial, pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan. Dengan demikian, gereja menjalankan tugasnya sebagai saksi Kristus hingga Injil dikenal oleh semua bangsa.

Secara teologis, misi berasal dari kata Latin missio yang berarti “pengutusan”, sepadan dengan kata Yunani apostellō yang berarti “mengutus”. Konsep tersebut menegaskan bahwa gereja hadir di dunia sebagai komunitas yang diutus Allah untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan-Nya. Karena itu, misi bukan sekadar program gereja, melainkan jati diri gereja yang hidup di tengah masyarakat.
Firman Tuhan dalam konferensi tersebut disampaikan oleh Vicaris Agustinus Kese, S.Th., dari GMMI Brotherhood Malang dengan dasar Roma 1:16–17 melalui tema “Isi Hati Allah di dalam Injil”. Ia menegaskan bahwa kasih Allah dinyatakan melalui Yesus Kristus yang datang untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Oleh sebab itu, pemberitaan Injil tidak hanya bertujuan memperbaiki kondisi sosial masyarakat, tetapi terutama membawa manusia kepada keselamatan kekal melalui iman kepada Kristus.

Menurut Agustinus, pelayanan sosial, pendidikan, maupun kesehatan merupakan bagian penting dari pelayanan gereja, namun semuanya harus bermuara pada pengenalan akan Injil yang menyelamatkan.
Sementara itu, Ketua Tim IMTC Korea Selatan, Pastor Rue, mengungkapkan bahwa Korea Selatan saat ini menjadi negara pengutus misionaris terbesar kedua di dunia. Ia mengingatkan bahwa Indonesia masih memiliki lebih dari 200 kelompok suku yang tergolong Unreached People Groups (UPG) atau kelompok masyarakat yang belum terjangkau Injil.

Kelompok-kelompok tersebut tersebar di Papua, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga pedalaman Sumatera. Sebagian besar memiliki jumlah orang Kristen kurang dari satu persen, bahkan ada yang sama sekali belum pernah mendengar tentang Yesus Kristus.
“Inilah ladang pelayanan yang masih menanti untuk dijangkau. Tuhan memanggil kita menjadi saksi-Nya bagi bangsa-bangsa,” kata Pastor Rue.
Senada dengan hal itu, Senior Pastor GMMI, Pdt. Yeheskiel Hede, S.Th., M.A., menjelaskan bahwa pembangunan jejaring misionaris menjadi salah satu fokus pelayanan GMMI ke depan. Menurutnya, para misionaris tidak cukup hanya diperlengkapi dengan pemahaman teologi dan misi yang benar, tetapi juga keterampilan praktis agar mampu melayani melalui berbagai profesi dan dunia kerja (marketplace ministry).

Konferensi ini tidak hanya menghadirkan seminar dan pemberitaan Firman Tuhan, tetapi juga drama rohani yang dipersembahkan oleh tim muda dari Korea Selatan. Drama tersebut menggambarkan pergumulan generasi muda menghadapi berbagai godaan kehidupan, sekaligus menegaskan bahwa Yesus Kristus datang untuk memulihkan manusia dan memberikan hidup yang baru.


Rangkaian kegiatan juga diisi dengan pujian dan penyembahan, doa bersama, penulisan pokok-pokok doa pribadi, serta altar call bagi peserta yang berkomitmen menyerahkan hidupnya dalam pelayanan misi. Para peserta kemudian didoakan secara khusus oleh para pendeta sebagai bentuk peneguhan atas panggilan mereka untuk menjadi saksi Kristus.

Tim pelayanan dari Korea Selatan yang hadir dalam konferensi ini terdiri atas Pastor Rue bersama Ibu Jeon, Hanbit, Junha, Narae, Sungeun, Gunwoo, Hyewoong, Haein, Hyeji, dan Youngkwang. Adapun tim dari GMMI Brotherhood Malang terdiri atas Vicaris Agustinus Kese, S.Th., Delki, Otniel, dan Merchi.

Melalui penyelenggaraan Youth Mission Conference, GMMI berharap lahir generasi muda yang memiliki hati bagi misi, berakar kuat dalam Injil, serta siap diutus menjangkau suku-suku dan bangsa-bangsa yang belum mengenal Kristus. Konferensi ini menjadi langkah awal membangun jejaring misionaris muda yang mampu menghadirkan kasih Kristus melalui pelayanan, kesaksian hidup, dan pengabdian di berbagai bidang kehidupan.
df_dep_pelita