STT Musafir Wisuda 15 Lulusan, Tekankan Panggilan Melayani dan Berdampak
Wisuda ke-4 dan Dies Natalis XI STT Musafir Kupang menjadi momentum pengutusan lulusan untuk menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah masyarakat.
KUPANG, Sekolah Tinggi Teologi (STT) Musafir Kupang mewisuda 15 lulusan dari dua program studi dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-4 yang dirangkaikan dengan Dies Natalis XI, Sabtu (17/10/2026). Prosesi berlangsung di Gereja Masehi Musafir Indonesia (GMMI) Jemaat Hermon Nunbaun Sabu, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang menjadi lokasi kampus STT Musafir.

Para lulusan terdiri atas 12 sarjana dari Program Studi Sarjana Teologi Kependetaan (S.Th.) dan 3 sarjana dari Program Studi Pendidikan Agama Kristen (S.Pd.). Wisuda ini menjadi penanda berakhirnya proses akademik sekaligus awal pengutusan mereka untuk melayani dan memberi dampak di tengah gereja serta masyarakat.
Dalam orasi ilmiah bertema “We are called to serve and make an Impact” atau “Kita Dipanggil untuk Melayani dan Memberi Dampak”, Wakil Ketua I STT Musafir Pdt. Johanis Krist Hae, S.Th., M.Pdk., D.Miss., mengangkat landasan Matius 5:16 dan 1 Petrus 4:10. Ia mengingatkan para lulusan bahwa gelar akademik bukan sekadar pencapaian untuk dibanggakan, melainkan amanat untuk menjadi garam dan terang dunia.
“Gelar Sarjana Teologi dan Pendidikan Agama Kristen bagi kalian 15 orang wisudawan bukanlah sekadar pencapaian akademis untuk dibanggakan, melainkan sebuah amanat pengutusan untuk menjadi garam dan terang,” ujar Doktor Krist Hae. Menurut dia, lulusan perlu hadir secara aktif di tengah masyarakat dan memancarkan nilai-nilai Kerajaan Allah melalui tindakan nyata yang jujur, adil, serta penuh kasih.

Ia juga berpesan agar para wisudawan mengedepankan kerendahan hati, integritas, dan kesetiaan dalam pelayanan, di mana pun Tuhan menempatkan mereka. Kelulusan, katanya, merupakan awal perjalanan untuk membawa dampak positif di lingkungan gereja, sekolah, dunia kerja, dan masyarakat luas. Krist Hae turut mengapresiasi para dosen yang telah membentuk karakter lulusan serta doa, dedikasi, dan pengorbanan orang tua dan keluarga yang mendampingi mereka.
Pada kesempatan itu, Wakil Ketua II STT Musafir Diana Gale Bangngu, M.Pd., membacakan Surat Keputusan Ketua STT Musafir Nomor 10/SK.WSD/STTM/X/2026 tertanggal 16 Oktober 2026 tentang Penetapan Wisudawan Sarjana Teologi Kependetaan dan Pendidikan Agama Kristen.

Sebanyak 12 lulusan Program Studi Teologi Kependetaan (S-1) yang diwisuda adalah Susana Apliana Liup, S.Th.; Yana Ndun, S.Th.; Desi Anita Liubana, S.Th.; Febri Yanti Ludji, S.Th.; Herman Riwo Buky, S.Th.; Orias Zakarias Lette, S.Th.; Maya Pedro Mangngi, S.Th.; Rahel Ata Ndawu, S.Th.; Rinnanti Apriana Pallo, S.Th.; Yani Delila Tenis, S.Th.; Serly Balutata, S.Th.; dan Yohanis Namu, S.Th. Sementara itu, tiga lulusan Program Studi Pendidikan Agama Kristen (S-1) ialah Benyamin Obe Tnunay, S.Pd.; Daniel Catur Adi Susanto, S.Pd.; dan Sadrak Rubenson Malese, S.Pd.

Mewakili para wisudawan, Maya Pedro Mangngi, S.Th., menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung perjalanan mereka. Dukungan itu, menurutnya, mencakup ilmu, didikan, teguran, dan teladan yang mengantar para lulusan sampai pada momen yang berlangsung dengan baik dan penuh hikmat tersebut.

Ketua STT Musafir Pdt. Gatsper Anderius Hawu Lado, M.Th., mengatakan bahwa perjalanan akademik para lulusan bukanlah hal mudah. Pencapaian itu tidak terlepas dari dukungan Yayasan Pendidikan Generasi Musafir, pengabdian para dosen dalam pelayanan pendidikan, serta orang tua yang terus memberikan dukungan dan doa.

Ketua Departemen Teologi GMMI Pdt. Abraham Satya Graha, S.Th., M.Pd.K., Ph.D., yang hadir mewakili Sinode GMMI, menekankan pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang menumbuhkan keberanian, kemerdekaan berpikir, dan generasi penerus berkarakter. Ia mengatakan, peradaban dan lembaga tidak bertahan karena kemegahan fisik, tetapi karena kekuatan gagasan yang terus dijaga, dijalankan, dan mampu menjawab tantangan zaman.

“Sebagai warga GMMI, kita perlu meneladani para founding father dengan berani berpikir jauh ke depan, mandiri (berdikari), dan memastikan bahwa kehadiran mereka senantiasa memberikan manfaat yang nyata bagi sesama,” kata Abraham.
Sementara itu, Sekretaris Yayasan Pendidikan Generasi Musafir, Aprilus Ratu Wie, S.E., menyampaikan bahwa kelulusan bukan garis akhir, melainkan titik awal menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Perkembangan teknologi, dinamika sosial, serta tantangan moral dan spiritual di masyarakat menuntut para lulusan menjadi pribadi yang berintegritas, setia, dan mampu menghadirkan solusi dalam setiap pelayanan.

df_deppelita






